Perkembangan Anak

“Anak-anak yang berada di wilayah yang berbeda. Mereka adalah bagian dari suatu generasi dan punya cara sendiri untuk merasakan suatu hal”

(George Santayana)

Pentinya mempelajari perkembangan anak.

Perkembangan adalah pola perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional yang dimulai sejak lahir dan terus berlanjut di sepanjang hayat. Kebanyakan perkembangan adalah pertumbuhan, meskipun pada akhirnya ia mengalami penurunan (kematian).

Sebagai seorang guru setiap tahun kita akan bertemu dengan banyak anak didik baru yang pastinya memiliki perbedaan karakteristik. Maka penting bagi kita sebagai seorang guru untuk mempelajari perkembangan anak, karena semakin banyak pemahaman maka semakin mudah kita mengetahui tentang cara untuk mengajari mereka.

Beberapa anak akan berkembang sebagaimana anak-anak lainnya (normal), dan sebagian anak berkembangan dengan cara yang berbeda dengan anak lainnya.

Pendidikan atau pengajaran yang diberikan oleh guru harus disesuaikan dengan perkembangan anak. Pengajaran yang diberikan kepada anak didik harus dilakukan pada tingkat yang tidak terlalu sulit dan terlalu menegangkan atau terlalu mudah dan membosankan.

Pola perkembangan anak adalah pola yang kompleks karena merupakan hasil dari beberapa proses :

  • Proses biologis
  • Proses kognitif
  • Proses sosioemosional

Perkembangan juga bisa dideskripsikan berdasarkan periode/tahapan.

Tahap-tahap Piagetian.

Melalui observasinya, Piaget juga menyakini bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam empat tahapan. Masing-masing tahap berhubungan dengan usia dan tersusun dari jalan pikiran yang berbeda-beda. Menurut Piaget, semakin banyak informasi tidak membuat pikiran anak lebih maju. Kualitas kemajuan berbeda-beda. Tahapan piaget itu adalah fase sensorimotor, pra operasional, operasional konkret, dan operasional formal.

  • Tahap sensorimotor. Tahap ini, berlangsung sejak kelahiran sampai sekitar usia dua tahun. Dalam tahap ini, bayi menyusun pemahaman dunia dengan mengoordinasikan pengalaman indra (sensory) mereka (seperti melihat dan mendengar) dengan gerakan (otot) mereka (menggapai, menyentuh) maka diistilahkan sebagai sensorimotor.
  • Tahap pra-operasional. Tahap ini berlangsung kurang lebih mulai dari dua tahun sampai tujuh tahun. Pada tahap ini anak memiliki pemikiran yang simbolis ketimbang pada tahap sensorimotor tetapi tidak melibatkan pemikiran operasional. Tahap ini lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis.
  • Tahap operasional konkret. Tahap ini dimulai dari sekitar tujuh tahun sampai sekitar sebelas tahun. Pemikiran operasional konkret mencakup penggunaan operasi. Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif, tetapi hanya dalam situasi konkret. Kemampuan untuk menggolong-golongkan sudah ada, tetapi belum bisa memecahkan problem-problem abstrak.
  • Tahap operasional formal. Tahap ini, muncul pada usia sebelas sampai dewasa. Pada tahap ini, individu sudah mulai memikirkan pengalaman di luar pengalaman kokret, dan memikirkan secara lebih abstrak, idealis, dan logis. Pemikir operasional formal juga mempunyai kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan. Pada tahap ini remaja mulai melakukan pemikiran spekulasi tentang kualitas ideal yang mereka inginkan dalam diri mereka dan diri orang lain. Pemikiran idealis ini bisa menjadi fantasi ataukhayalan. Banyak remaja yak sabar terhadap cita-cita mereka sendiri. Mereka juga tidak sabar menghadapi problem untuk mewujudkan cita-citanya itu.

Dari tahapan-tahapan ini seorang guru pastilah akan menemukan permasalahan-permasalahan yang berbeda-beda. Penanganannya pun akan berbeda-beda.

Lalu bagaimanakah cara untuk menangani anak didik yang sesuai dengan tahapan perkembangan?

Strategi Mengajar

Sumber

  • Santrock, John W. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PRENADAMEDIA GROUP
  • freepik (picture)

101 total views, 1 views today

Muhammad Fathurrahman

Mau tau aja lu :P

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *